Pandemi Mempercepat Adopsi Platform HR Berbasis Cloud

Survei Information Service Group (ISG) menemukan bahwa perusahaan telah mempercepat adopsi platform HR berbasis cloud di tengah pandemi dan mengatakan mereka memperkirakan adanya peningkatan adopsi tersebut di masa mendatang.

Survei ISG  terhadap 260 perusahaan di seluruh dunia menemukan bahwa saat ini 46 persen perusahaan telah menggunakan HR Software-as-a-Service (SaaS) atau solusi hybrid.  Ini adalah kenaikan 20 persen dari survei yang dilakukan dua tahun lalu. Survei juga menemukan bahwa sebanyak 57 persen organisasi berharap untuk menggunakan SaaS berbasis subscription atau solusi hybrid pada tahun 2023.

Stacey Cadigan, partner ISG HR Technology mengatakan bahwa pada tahun 2020, pandemi COVID-19 mengubah cara bekerja karyawan dengan cara yang belum pernah terbayangkan dan hal ini meningkatkan fokus pada potensi teknologi HR SaaS untuk lebih melibatkan karyawan, mendukung tenaga kerja virtual, meningkatkan produktivitas, dan memungkinkan lebih banyak model HR yang agile. “Survei kami menunjukkan minat yang meningkat pada HR SaaS, karena semakin banyak perusahaan yang menyadari nilai bisnis yang dapat diukur dari pendekatan berbasis platform,” lanjut Stacey.

Survei menemukan 64 persen perusahaan mengatakan mereka mencapai nilai bisnis yang terukur dari investasi mereka di platform SaaS HR, kenaikan sekitar 50 persen dari sejak 2019 dimana ISG melakukan survei terakhir kalinya. 

Nilai bisnis ditentukan oleh berbagai ukuran, termasuk produktivitas, penghematan biaya, dan retensi karyawan. Diantara ukuran nilai bisnis tersebut, survei menemukan organisasi dapat menghemat biaya HR yang besar dengan solusi SaaS HR. Sebanyak 70 persen organisasi melaporkan dapat menghemat biaya hingga 10 persen atau lebih, dan 37 persen organisasi menghemat hingga 20 persen atau lebih.

“HR telah berada di garis depan selama pandemi, salah satu peristiwa paling menegangkan dalam sejarah baru-baru ini,” kata Deb Card, partner dari ISG HR Technology dan salah satu penulis laporan tersebut. “Teknologi HR memberikan nilai dengan memungkinkan pengambilan keputusan secara real-time berdasarkan data, membina koneksi dan kolaborasi di antara karyawan selama work from home, memantau kinerja, produktivitas dan keterlibatan, serta memungkinkan perekrutan, orientasi, dan off-boarding virtual,” lanjut Deb.

Banyak solusi SaaS HR yang menambahkan fitur khusus yang berhubungan dengan COVID untuk mematuhi undang-undang penggajian dan peraturan baru, melacak kasus COVID dan membantu mengelola data untuk kembali bekerja secara normal.

Studi ini menemukan korelasi yang kuat antara keberhasilan organisasi dalam menyelaraskan model dan proses penyampaian layanannya dengan platform HR yang baru dengan  kemampuannya untuk mencapai target bisnis.

Perbandingan jumlah perusahaan terbagi rata antara yang menggunakan layanan  HR internal dan yang menggunakan outsourcing model untuk HR. Tetapi laporan tersebut menunjukkan tren yang jelas ke arah outsourcing sejak dikeluarkannya laporan di tahun 2019 dan tahun 2017. Di antara 11 fungsi HR yang dianalisis, langkah terbesar menuju model outsourcing  yang terbesar  berada di bidang penggajian dan administrasi tunjangan kesehatan.

Setelah pandemi, survei menemukan hampir 7 dari 10 organisasi mengharapkan persentase yang signifikan dari karyawan mereka (lebih dari 20 persen) untuk bekerja dari rumah pada tahun 2022 dan seterusnya, dengan pandangan paling umum bahwa antara 20 dan 40 persen akan bekerja dari rumah. Ini akan membutuhkan investasi yang lebih besar dalam teknologi HR, alat dan kebijakan untuk mendukung strategi work from home jangka panjang.

“Pandemi COVID-19 memfokuskan kembali HR pada kebutuhan data yang mendukung perencanaan dan analitik tenaga kerja, termasuk data waktu real-time tentang ketidakhadiran dan kepuasan karyawan, serta kemampuan untuk merencanakan dan melaksanakan cuti,” kata Kelly Will, direktur ISG HR Technology. “Hampir 40 persen organisasi mengatakan bahwa mereka sangat berhasil dalam mengembangkan budaya berbasis data di HR, dengan seperempat responden tambahan yang menggambarkan diri mereka sebagai cukup sukses,” lanjut Kelly.

Kelly mengatakan kemajuan dalam analitik HR sangat menggembirakan, tetapi masih banyak peluang untuk memanfaatkan metrik HR di seluruh perusahaan. “Menggunakan data untuk mendorong tindakan memerlukan upaya manajemen untuk membangun keterampilan dan budaya baru, menanamkan analitik ke dalam pekerjaan sehari-hari, dan memanfaatkan kemampuan analitik baru,” kata Kelly.

forwardHR merupakan software terintegrasi yang dirancang khusus oleh BSC secara fleksibel untuk memenuhi kebutuhan HR di setiap perusahaan.

Jika Anda ingin mendiskusikan kebutuhan software HRIS di perusahaan Anda, BSC dapat membantu Anda. Hubungi kami melalui form dibawah dan jelaskan kebutuhan Anda saat ini. Kami siap membantu.

Contact BSC

Interested?

Get in touch with us today and find out how we can help you make significant improvement.

Subscribe to newsletter